TUGAS KREATIVITAS DAN KEBERBAKATAN
“TUGAS
PERTUMUAN 2”
Disusun
oleh:
Nama : ADRIAN
DEARDO(10514349)
IIN FATMALA(15514115)
IVO RIAN AROFA(15514559)
MELYSA(16514589)
NABELA PRATIWI(1D514023)
Kelas :1PA16
Dosen :Tri Maryani S.Psi.,
MSi
JURUSAN
PSIKOLOGI
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
BEKASI
2014
A.Teori-teori pendorong kreativitas :
1.)
Motivasi Interinsik untuk kreativitas.
Setiap
individu memiliki kecenderungan atau dorongan mewujudkan potensinya, mewujudkan
dirinya, dorongan berkembang menjadi matang, dorongan mengungkapkan dan
mengaktifkan semua kapasitasnya.Dorongan
ini merupakan motivasi primer untuk kreativitas ketika individu membentuk
hubungan-hubungan baru denganlingkungannya dalam upaya manjadi dirinya
sepenuhnya. (Rogers dan Vernon 1982).
2.)
Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif.
Kretaivitas
memang tidak dapat dipaksakan, tetapi harus dimungkinkan untuk tumbuh, bibit
unggul memerlukan kokdisi yang memupuk dan memungkinkan bibit itu mengembangkan
sendiri potensinya.Bagaimana cara menciptakan lingkungan eksternal yang dapat
memupuk dorongan dalam diri anak (internal) untuk mengembangkan
kreativitasnya?Menurut pengalaman Carl Rogers dalam psikoterapi adalah dengan
menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis.
B.Teori-teori
proses kreatif :
1.) Teori Walles
Wallas
dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4
tahap :
1.
Tahap
Persiapan, memperisapkan
diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari
pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.
- Tahap Inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.
- Tahap Iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru.
- Tahap Verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen. Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis).
2.)
Teori-teori tentang belahan otak kanan dan kiri
Sejak anak lahir, gerakannya belum berdifensiasi,
selanjutnya baru berkembang menjadi pola dengan kecenderungan kiri atau kanan.
Hampir setiap orang mempunyai sisi yang dominan. Pada umunya orang lebih biasa
menggunakan tangan kanan (dominasi belahan otak kiri), tetapi ada sebagian
orang kidal (dominan otak kanan). Terdapat “dichotomia” yang membagi fungsi
mentala menjadi fungsi belahan otak kanan dan belahan otak kiri.Teori
ini walaupun didukung data empiris, namun masih memerlukan pengkajian lebih
lanjut (Dacey, 1989 : Piirto 1992).
DIKOTOMI FUNGSI MENTAL
|
Belahan
Otak Kiri
|
Belahan
Otak Kanan
|
|
Intelek
|
Intuisi
|
|
Konvergen
|
Divergen
|
|
Intelektual
|
Emosional
|
|
Rasional
|
Metaforik,
intuitif
|
|
Verbal
|
Non
Verbal
|
|
Horizontal
|
Vertikal
|
|
Konkret
|
Abstrak
|
|
Realistis
|
Impulsif
|
|
Diarahkan
|
Bebas
|
|
Diferensial
|
Eksistensial
|
|
Sekuensial
|
Multipel
|
|
Historikal
|
Tanpa
Batas Waktu
|
|
Analitis
|
Sintesis,
Holitik
|
|
Eksplisit
|
Implisit
|
|
Objektif
|
Subjektif
|
|
Suksesif
|
Simultan
|
Sumber : Springer, S.P dan Deutsch, 1981
C.
Belajar Kreatif :
1.)
Pengertian belajar kreatif
proses belajar kreatif
menurut Torance dan Myres berpendapat bahwa proses belajar kreatif sebagai :
“keterlibatan dengan sesuatu yang berarti, rasa ingin tahu dan mengetahui dalam
kekaguman, ketidak lengkapan, kekacauan, kerumitan, ketidakselarasan,
ketidakteraturan dan sebagainya.
2.) Liputan proses belajar
kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional
dalam menyusun program pembelajaran yang dapat
meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar yaitu:
1. Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar
kreatif
a. Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai
dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di
Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat
dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau
kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang
berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan
memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan
yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan
menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
b. Pengaturan Fisik
Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
c. Kesibukan Dalam Kelas
kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan
fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang
rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada
tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara
yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
d. Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada
sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator
gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki
tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur
harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan
pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 2009 : 78-81).
2. Mengajukan dan mengundang
pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam
mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk
bertanya.
a. Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam
divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan
keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai
informasi mereka.
b. Metode Diskusi
Dalammetode dikusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru
berperan sebagai pasilitator yang mengenalkan masalah kepada siwa dan
memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah.
Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk
menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari
arah yang dituju.
c. Metode Inquiri-Discovery
pendekatan inquiry (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery
(penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap
dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry, pertama adanya kesadaran bahwa
ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan
dengan merumuskan masalah (tahap kedua), pada tahap ini
masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan
pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga
adalah mencari atau menjajaki (searching).
3. Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan
menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah
terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan
menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum
pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja
kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi
di sini.
Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan
Psikomotorik (perasaan).Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada
keseimbanganaantara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan mental
intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan
perkembangan moral.
Teknik-teknik belajar kreatif dijelaskan
sebagai berikut:
1. Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan
mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam
jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa
mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka
· Menyelesaikan
sesuatu yang telah dimulai
· Mencari
penggunaan baru dari benda sehari-hari
· Meningkatkan atau
memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 2009 : 100- 1003).
2. Sumbang Saran
Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapak unutk
memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas 8-10 orang) dengan
“menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok. Hal-hal yang
pelru diperhatikan meliputi :
a. Kebebasan
dalam memberikan gagasan
b. Penekanan
pada kuantitas
c. Kritik
ditangguhkan
d. Kombinsi
dan peningkatan gagasan
e. Mengulangi
gagasan (Munandar, 2009 : 104).
3. Daftar
pertanyaan yang memacu gagasan
Tehnik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan
masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau
situasi.dengan meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat
hubungan-hubungan baru.
4. Menyimak sifat benda atau keadaan
Tehnik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau
memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari
suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu
persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau
situasi tersebut.
5. Hubungan yang dipaksakan
Tehnik lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara
“memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan
unsure-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagsan baru. Maksud dari
“memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri dari
hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk
menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
6. Pendekatan Morfologis
Pada tehnik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan
suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat
bentuk struktur masalahPemecahan masalah secara kreatif
3.
Mengapa kreatif penting.
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat
alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1. Belajar kreatif membantu
anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif
adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu
menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2. Belajar kreatif
menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak
mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3. Belajar kreatif dapat
menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif
yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari
bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan
pribadi kita.
4. Belajar kreatif dapat
menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
