Nama : Ivo RianArofa
Kelas : 3PA15
NPM :
15514559
Logoterapi (Frankl)
Kata “logo” berasal dari bahasa Yunani “logos” yang
berarti makna atau meaning dan juga “rohani”. Adapun kata “terapi” berasal dari
bahasa Inggris therapy yang artinya penggunaan teknik-teknik menyembuhkan dan
mengurangi suatu penyakit. Jadi, kata logoterapi artinya penggunaan teknik
untuk menyembuhkan dan mengurangi atau meringankan suatu penyakit melalui
penemuan makna hidup. Istilah tema utama logoterapi adalah karakteristik eksistensi
manusia, dengan makna hidup sebagai inti teori. Dibawah ini akan di jelaskan
lebih detail.
Konsep Dasar Pandangan Frankl tentang
Perilaku / Kepribadian
Pandangan Frankl tentang kesehatan psikologis
menekankan pentingnya kemauan akan arti. Tentu saja ini merupakan kerangka, di
dalamnya segala sesuatu yang lain diatur. Frankl berpendapat manusia harus dapat menemukan makna hidupnya
sendiri dan setelah menemukan lalu mencoba untuk memenuhinya. Bagi Frankl
setiap kehidupan mempunyai makna, dan kehidupan itu adalah suatu tugas yang
harus dijalani. Mencari makna dalam hidup inilah prinsip utama teori Frankl
Logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar, yakni
Kebebasan berkehendak (Freedom of
Will)
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah mahluk
yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan yang dimaksud dalam freedom
of will seperti:
-
Kebebasan yang bertanggungjawab.
-
Kebebasan untuk mengambil sikap (freedom to take a stand) atas kondisi-
kondisi tersebut.
- Kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
Kehendak Hidup Bermakna (The Will to
Meaning)
Konsep keinginan
kepada makna (the will to meaning) inilah menjadi motivasi utama kepribadian
manusia (Frankl, 1977). Dalam psikoanalisa memandang manusia adalah pencari
kesenangan. Pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari
kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa kesenangan merupakan efek dari pemenuhan
makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna. Mengenal
makna, menurut Frankl bersifat menarik dan menawari bukannya mendorong. Karena
sifatnya menarik maka individu termotivasi untuk memenuhinya. Agar individu
menjadi individu yang bermakna, maka melakukan berbagai kegiatan yang syarat
dengan makna.
Makna Hidup (The Meaning Of Life)
Makna yaitu suatu hal yang didapat dari pengalaman
hidupnya baik dalam keadaan senang maupun dalam penderitaan. Makna hidup
dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa berbeda antara satu
dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang
penting secara umum bukan makna hidup, melainkan makna khusus dari hidup pada
suatu saat tertentu. Setiap individu memiliki pekerjaan dan misi untuk
menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa
digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas
yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
Unsur-unsur Terapi
Munculnya gangguan / kecemasan
Saat individu tidak memiliki keinginan terhadap
sesuatu (apapun), karena keinginan akan mendorong setiap manusia untuk
melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya di rasakan berarti dan berharga.
Menurut Frankl (2004) terdapat dua tahapan pada sindroma ketidakbermaknaan, yaitu:
-
Frustasi eksistensial (exsistential frustration) atau disebut juga
kehampaan
eksistensial (exsistetial vacuum)
Menurut Koesworo,1992, exsistential frustration
adalah fenomena umum yang berkaitan dengan keterhambatan atau kegagalan individu
dalam memenuhi keinginan akan makna.
-
Neurosis noogenik (noogenic neuroses)
Yaitu suatu manifestasi khusus dari frustasi
eksistensial yang ditandai dengan simptomatologi neurotik klinis tertentu yang
tampak (Koesworo,1992). Frankl menggunakan istilah ini untuk membedakan dengan
keadaan neurosis somatogenik, yaitu neurosis yang berakar pada kondisi
fisiologis tertentu dan neurosis psikogenik yaitu neurosis yang bersumber pada
konflik-konflik psikologis.
Tujuan terapi
·
Memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal
ada pada
setiap orang terlepas dari ras, keyakinan, dan agama yang dianutnya.
·
Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat,
dan
diabaikan, bahkan terlupakan.
·
Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan
untuk mampu tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar
mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Peran terapis
Terapis memberikan sugesti-sugesti terhadap klien, bahwa setiap manusia
mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam
hidupnya.
Teknik-teknik Terapi
Dalam logoterapi, klien diajarkan bahwa setiap
kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan, dan makna yang harus diupayakan
untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup tidak lagi kosong jika sudah menemukan
sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Victor Frankl
dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Teknik-teknik
yang digunakan antara lain:
-
Intensi paradoksal
Mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang
disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah
keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.
Contohnya:
A. Seorang pemuda
yang selalu gugup ketika bergaul.
B. Masalah tidur.
Menurut Frankl, kalau
menderita insomnia, seharusnya tidak mencoba
berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan
sebagainya. Seharusnya berusaha
menjaganya selama mungkin. Setela itu baru merasakan adanya kekuatan yang mendorong untuk melangkah ke kasur.
-
De-refleksi.
Frankl percaya sebagian besar persoalan kejiwaan
berawal dari perhatian yang terfokus pada individu. Dengan mengalihkan
perhatian dari individu dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan
itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, mengalami masalah seksual, cobalah
memuaskan pasangan tanpa memperdulikan kepuasan individu atau cobalah tidak
memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan.
Rasional Emotif Theraphy (RET)
Konsep Dasar Konseling Rasional Emotif
(RET)
Manusia pada dasar dasarnya adalah unik yang
memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir
dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika
berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.
Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan
oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.
Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak
logis dan irasional. Emosi menyertai individu yang berpikir dengan penuh
prasangka, sangat personal, dan irasional.Berpikir irasional diawali dengan
belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat
dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari verbalisasi yang
digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah
dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat.Perasaan dan
pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang
rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan
cara verbalisasi yang rasional.
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian
dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang
membangun tingkah laku individu, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), dan
Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan
konsep atau teori ABC.
Antecedent event (A) yaitu segenap peristiwa luar
yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta,
kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga,
kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan
antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitukeyakinan, pandangan, nilai, atau
verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua
macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan
yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional
merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal,
bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional
merupakan keyakinan ayau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk
akal, emosional, dan keran itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi
emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau
hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi
emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa
variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Unsur Terapi
Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi
bahwa berfikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah. Emosi disebabkan dan
dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan
diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intrinsik.
Teknik Konseling Rasional Emotif (RET)
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan
berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan
dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai
berikut.
1. Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan
membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan
tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat
pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan
yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang
dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan
dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu
model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah
lakunya sendiri yang negatif.
2. Teknik-teknik Behavioristik
a. Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku
yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward)
ataupun hukuman (punishment). teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem
nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem
nilai yang positif.
Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka
klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b. Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku
baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model
sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan
menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model
sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3. Teknik-teknik Kognitif
a. Home work assigments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas
rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai
tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan
dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak
rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan
untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan
tertentu berdasarkan tugas yang diberikan
Pelaksanaan home work assigment yang diberikan
konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan
mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta
kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi
ketergantungannya kepada konselor.
b. Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam
mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui
bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial.
Maksud utama teknik latihan asertif adalah : (a)
mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan
emosinya; (b) membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya
sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain; (c) mendorong klien
untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri; dan (d) meningkatkan
kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri
sendiri.
Terapi Kelompok (Group Therapy)
Konsep Dasar
Group Therapy
Terapi Kelompok merupakan suatu psikoterapi yang
dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain
yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa
yang telah terlatih. Terapi kelompok adalah terapi psikologi yang dilakukan
secara kelompok untuk memberikan stimulasi bagi klien dengan gangguan interpersonal.
Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah
dukungan (support), pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah,
meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas
sehingga terapi aktivitas kelompok ini dapat dilakukan pada karakteristik
gangguan seperti : gangguan konsep diri, harga diri rendah, perubahan persepsi
sensori halusinasi, klien dengan perilaku kekerasan atau agresif dan amuk serta
menarik diri/isolasi sosial.
Selain itu, dapat mengobati klien dalam jumlah
banyak, dapat mendiskusikan masalah-masalah secara kelompok, menggali gaya
berkomunikasi, belajar bermacam cara dalam memecahkan masalah, dan belajar
peran di dalam kelompok. Namun, pada terapi ini juga terdapat kekurangan yaitu
: kehidupan pribadi klien tidak terlindungi, klien kesulitan mengungkapkan
masalahnya, terapis harus dalam jumlah banyak. Dengan sharing pengalaman pada
klien dengan isolasi sosial diharapkan klien mampu membuka dirinya untuk
berinteraksi dengan orang lain sehingga keterampilan hubungan sosial dapat
ditingkatkan untuk diterapkan sehari-hari.
Terapi kelompok adalah terapi yang dilakukan melalui
sebuah kelompok namun memiliki kegiatan yang terstruktur dan memberikan efek
terapeutik bagi anggotanya. Efek terapeutik yaitu kegiatan yang dilakukan dalam
kelompok akan memberikan efek terapi kepada masing-masing anggota. Mereka akan
belajar untuk membuka diri mereka, menceritakan masalah mereka, mendengar
pendapat atau saran dari anggota lain.
Unsur-unsur Terapi kelompok
Unsur-unsur terapi kelompok
adalah :
a. Munculnya gangguan
Terapi kelompok
digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu
b.Tujuan terapi
-Meningkatkan identitas diri
-Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok
terapis
- Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
- Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
c. Peran terapis
Terapis harus
memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untukmencapai tujuan atau
harapannya.
Teknik Terapi kelompok
Teknik-teknik terapi
kelompok
a. Melibatkan
para anggotanya untuk terbuka dan aktif
b. Terapis turut
membantu klien untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar
lebih bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya
c. Berfokus pada
satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama kali.
Terapi Perilaku
KONSEP DASAR
TERAPI PERILAKU
Selama masa
perkembangannya sampai saat ini, terdapat tiga perubahan besar dalam penerapan
terapi perilaku, yaitu :
A. terapi perilaku
yang fokus pada memodifikasi perilaku-perilaku tampak (overt behavior),
yakni yang didasarkan pada prinsip dan prosedur clasical dan operant
conditioning. Terdapat dua pendekatan yang terkenal yakni :
a. applied
behavior analysis (Skinner)
Pada pendekatan ini
asumsi yang digunakan adalah perilaku merupakan fungsi dari konsekuensi (behavior
is a function of its consequences). Prosedur yang digunakan berupa
pemberian reinforcement, punishment, extinction dan stimulus
control.
b. Neobehavioristic
mediational stimulus response (Mowrer & Miller). Merupakan
aplikasi dari konsep clasical conditioning. Pada pendekatan ini
mulai disadari bahwa proses mental mempunyai pengaruh terhadap hukum belajar
yang kemudian membentuk suatu perilaku. Model pendekatan Stimulus Respon
menggunakan proses mediasional. Teknik-teknik yang digunakan berupa systematic
desensitization dan flooding.
B. Gerakan ke dua
ialah Social-Cognitive theory yang diprakarsai oleh Bandura
(1986). Ada 3 faktor yang terpisah namun saling membentuk sistem interaksi satu
sama lainnya, yang berupa lingkungan (external stimulus event)s,
penguatan (external reinforcement), dan proses kognitif (cognitive
mediational processes). Social-Cognitive Theory beranggapan
bahwa ketiga elemen terseut saling mempengaruhi satu sama lain. Oleh karena
itu, dalam prosedur treatment yang menjadi fokus adalah individu itu sendiri
sebagai agent of change. Aplikasi dari teori ini adalah Cognitive
Behavior Therapy (CBT).
C. Gerakan ketiga
dalam perkembangan terapi perilaku didasari oleh argumentasi Hayes (2004) yang
mulai menggunakan konsep penerimaan (acceptance) yg merupakan proses
aktif dari self-affirmation, menerima bukan berarti menyerah
melainkan keberanian untuk mengalami/merasakan pikiran perasaan negatif.
Terdapat dua bentuk terapi perilaku yang menggunakan konsep acceptance,
yakni :
a. Dialectical
Behaviora Therapy (DBT)
Terdapat dua konsep
penting dalam penerapan DBT, yakni Acceptance and change dan Mindfullness.
Untuk mencapai kondisi mindfullness dibutuhkan beberapa kemampuan yang harus
dikuasai, yakni :
1. Mengamati serta
memperhatikan emosi yang dirasakan tanpa mencoba untuk menghentikan walaupun
terasa sangat menyakitkan.
2. Mencoba untuk
menjelaskan dan menjabarkan pikiran serta perasaan yang sedang dirasakan.
3. Jangan langsung
menghakimi atas pikiran dan perasaan yang sedang dialami, tapi coba untuk
mengidentifikasi dan memahami apa yang menjadi penyebab hal tersebut.
4. Stay in
the present.
5. Fokus pada satu
hal (one mindfully).
b. Acceptance
and Commitment Therapy (ACT).
Sedangkan dalam Acceptance
and Commitment Therapy mengkombinasikan prinsip-prinsip behaviorisme
Skinner dengan faktor bahasa dan kognitif serta bagaimana ketiga faktor
tersebut berpengaruh dalam psikopatologi. Terdapat empat konsep utama yakni:
1. Experiential
avoidance. Mengacu pada proses mencoba untuk menghindari pengalaman pribadi
negatif atau menyedihkan,
2. Acceptance.
ACT dirancang untuk membantu klien belajar bahwa menghindari pengalaman adalah
bukan solusi.
3. Cognitive
Defusion. Konsep ini mengacu memisahkan pikiran dari orang lain yang dan
apa yang kita pikirkan.
4. Commitment.
ACT berfokus pada tindakan.
Unsur-unsur Terapi
1) Munculnya Gangguan
Terapi behavior
adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang
ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa
bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan
masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang
disebut sebagai belajar.
2) Tujuan Terapi
Terapi behavioral
memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku spesifik atau perilaku
menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses
belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk
tingkah laku yang maladaptif.
3) Peran Terapis
Terapis tingkah laku
harus memainkan peran aktif dan direktif dalam pemberian treatment yakni
terapis menerapkan pengetahuan ilmiah pada pencarian pemecahan masalah-masalah
manusia, para kliennya. Terapi tingkah laku secara khas berfungsi sebagai guru,
pengarah, dan ahli dalam mendiagnosis tingkah laku yang maladaptif dan dalam
menentukan prosedur-prosedur penyembuhan yang diharapkan, mengarah pada
tingkahlaku yang baru dan adjusti.
Teknik Terapi
1. Desensitisasi
sistematik dipandang sebagai proses deconditioning atau counterconditioning.
2. Flooding adalah
prosedur terapi perilaku di mana orang yang ketakutan memaparkan dirinya
sendiri dengan apa yang membuatnya takut, secara nyata atau khayal, untuk
periode waktu yang cukup panjang tanpa kesempatan meloloskan diri.
3. Penguatan sistematis
(systematic reinforcement) didasarkan atas prinsip operan, yang disertai
pemadaman respons yang tidak diharapkan.
4. Pemodelan (modeling)
yaitu mencontohkan dengan menggunakan belajar observasionnal. Cara ini sangat
efektif untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan, karena memberikan kesempatan
kepada klien untuk mengamati orang lain mengalami situasi penimbul kecemasan
tanpa menjadi terluka.
5. Regulasi diri
melibatkan pemantauan dan pengamatan perilaku diri sendiri, pengendalian atas
kondisi stimulus, dan mengembangkan respons bertentangan untuk mengubah
perilaku maladaptif.
SUMBER :