Nama : Ivo Rian Arofa
kelas : 3PA15
NPM : 15514559
I.
PENGERTIAN PSIKOTERAPI
Secara istilah, Psikoterapi
berasal dari kata psyco yang berarti jiwa, dan therapy yang berarti penyembuhan. Jadi dapat
dikatakan bahwa Psikoterapi adalah ilmu yang berkaitan dengan penyembuhan jiwa.
R. Wolberg. M.D. dalam bukunya yang
berjudul The Tecnique of Psychoterapy mendefinisikan
Psikoterapi sebagai perawatan dengan menggunakan intrumen psikologis atas
permasalahan yang yang menyangkut kehidupan emosional seseorang. Dalam hal ini,
seorang psikoterapis secara sadar berupaya untuk menciptakan pola relasi secara
profesional dengan kliennya.
Sedangkan James P. Chaplin
mentipologikan pengertian Psikoterapi ke dalam dua perspektif, yakni secara
khusus dan umum. Secara umum, psikoterapi melingkupi berbagai cara penyembuhan
pasien melalui keyakinan religius yang dilakukan dengan cara komunikasi
non-formal atau diskusi personal secara intens dengan guru atau teman. Secara
Khusus, Psikoterapi diartikan sebagai penerapan teknik khusus pada penyembuhan
penyakit mental atau pada kesulitan-kesulitan penyelesaian diri setiap hari.
Dari
beberapa pengertian di atas dapat kita pahami bahwa Psikoterapi merupakan
proses interaksi formal antara dua pihak atau lebih, yaitu antara klien dengan
psikoterapis yang bertujuan memperbaiki keadaan yang dikeluhkan klien. Psikoterapis (Psychotherapist) adalah
sebutan bagi orang yang melakukan Psikoterapi.
TUJUAN PSIKOTERAPI
Tujuan Psikoterapi adalah mengolah
kepribadian klien atau pasien agar mampu menyesuaikan dan merealisasikan
dirinya sesuai dengan kodrat kemanusiaan. Realisasi ini dapat diumpamakan
seperti proses kelopak bunga yang merekah secara alamiah untuk merealisasikan
tumbuhnya kembang. Para Psikoterapis berperan sebagai pembantu proses realisasi
fitrah kliennya menuju kepada kehidupan yang bermakna, berarti, dan berguna.
Makna hidup yang tertinggi adalah pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Pencipta
diri dan alam semesta.
Psikoterapi didasarkan pada fakta
bahwa Aspek-aspek mental manusia seperti cara berpikir, proses emosi, persepsi,
kebiasaan dan pola perilaku bisa diubah dengan pendekatan psikologis.
Tujuan Psikoterapi antara lain:
1. Mengubah, mengurangi, atau menghapus gejala dan
gangguan psikologis.
2. Mengatasi gangguan pada pola perilaku.
3. Meningkatkan tumbuh dan berkembangnya
kepribadian individu yang positif.
4. Menguatkan motivasi dalam diri klien untuk
konsisten melakukan hal-hal yang positif.
5. Menghapus atau mengurangi tekanan emosional.
Mengembangkan potensi dalam diri klien.
6. Memperbaiki kebiasaan buruk klien agar menjadi
lebih baik.
7. Modifikasi struktur kognisi klien.
8. Mendapatkan pengetahuan tentang diri.
9. Mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi dan
melakukan interaksi sosial.
10. Meningkatkan kemampuan dalam pengambilan
keputusan.
11. Membantu meyembuhkan penyakit fisik melalui
terapi psikologis.
12. Meningkatkan kesadaran diri. Membangun ketegaran
dan kemandirian untuk menghadapi masalah.
UNSUR-UNSUR PSIKOTERAPI
Masserman (Karasu 1984) telah melaporkan tujuh
“parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis
psikoterapi. Dalam hal ini termasuk :
1. Peran sosial (martabat) psikoterapis,
2. Hubungan (persekutuan terapeutik),
3. Hak,
4. Retrospeksi,
5. Re-edukasi,
6. Rehabilitasi,
7. Resosialisasi dan rekapitulasi.
Unsur – unsur psikoterapeutik dapat dipilih
untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.
Ciri-ciri ini dapat diubah dengan berubahnya tujuan terapeutik, keadaan mental
dan kebutuuhan pasien.
PERBEDAAN ANTARA PSIKOTERAPI & KONSELING
1. Konseling pada umumnya menangani orang normal,
sedangkan psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan
psikologis.
2. Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi
sadar dan berjangka pendek, sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif,
konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.
3. Konseling lebih terstruktur dan terarah pada
tujuan yang terbatas dan konkret, sedangkan psikoterapi sengaja dibuat lebih
ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah dan berkembang terus.
PENDEKATAN TERHADAP MENTAL ILLNESS
Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness menurut J.P.
Chaplin, yaitu:
1. Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan
zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih
manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan
karena kurangnya insulin.
2. Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk,
sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis
perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang
ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial,
ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan
sepanjang hidup individu.
3. Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari
gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan
pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi
sosio-budaya tertentu.
4. Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri
seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar
falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien,
sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
II.
TERAPI PSIKOANALISIS
Kesadaran dan ketaksadaran
Bagi
Freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa. Seperti
gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air,
bagian jiwa yang terbesar berada dibawah permukaan kesadaran. Ketaksadaran
menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan, dan bahan-bahan yang di represi.
Freud percaya, bahwa sebagian besar fungsi psikologis berada di luar kesadaran.
Sasaran terapi psikoanalitik adalah membuat motif-motif tak sadar menjadi
disadari, karena hanya ketika menyadari motif-motif tersebutlah individu bisa
melaksanakan pilihan. Walaupun diluar kesadaran, ketaksadaran tetap
mempengaruhi tingkah laku. Proses-proses tak sadar adalah akar dari gejala dan
tingkah laku neurotik. Dari perspektif ini, penyembuhan adalah upaya untuk
menyingkap gejala-gejala, sebab tingkah laku dan bahan-bahan yang direpresi
yang menghalangi fungsi psikologis yang sehat.
Struktur Kepribadian
Menurut
pandangan psikoanalitik, struktur kepribadian dibagi menjadi tiga yaitu:
a. Id
Kepribadian seseorang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id kurang
terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id tidak bisa mentoleransi
tegangan, dan bekerja untuk melepaskan tegangan itu sesegera mungkin serta
untuk mencapai keadaan homeostatik. Id diatur oleh asas kesenangan, bersifat
tidak logis, amoral, dan didorong oleh satu kepentingan.
b. Ego
Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan
mengatur. Tugas utama Ego adalah menjadi pengantar naluri-naluri dengan
lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor. Ego
berlaku realistis dan berpikir logis serta merumuskan rencana-rencana tindakan
bagi pemuasan kebutuhan-kebutuhan.
c. Superego
Superego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian, kode moral bagi
individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk,
benar atau salah. Superego merepresentasikan hal yang ideal yang real dan
mendorong bukan pada kesenangan tetapi pada kesempurnaan. Superego berfungsi
menghambat impuls-impuls dari Id.
Mekanisme Pertahanan Ego
Mekanisme-mekanisme
pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya
ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego tidak selalu patologis dan bisa
memiliki nilai penyesuaian jika tidak menjadi suatu gaya hidup. Berikut ini
beberapa bentuk mekanisme pertahanan ego :
a. Penyangkalan
Penyangkalan
adalah pertahanan melawan kecemasan dengan menutup mata terhadap keberadaan
kenyataan yang mengancam. Individu menolak sejumlah aspek kenyataan yang membangkitkan
kecemasan.
b. Proyeksi
Proyeksi
adalah mengalamatkan sifat-sifat tertentu yang tidak bisa diterima oleh ego
kepada orang lain. Seseorang melihat pada diri orang lain hal-hal yang tidak
disukai dan ia tiak bisa menerima adanya hal-hal itu pada diri sendiri.
c. Fiksasi
Fiksasi
adalah menjadi “terpaku’ pada tahap-tahap perkembangan yang lebih awal karena
mengambil langkah ke tahap selanjutnya bisa menyebabkan kecemasan.
d. Regresi
Regresi
adalah melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang
tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar.
e. Rasionalisasi
Rasionalisasi
adalah menciptakan alasan-alasan yang “baik” untuk menghndari ego dari cedera
atau memalsukan diri sehingga kenyataan yang mengecewakan menjadi tidak begitu
menyakitkan.
f. Sublimasi
Sublimasi
adalah menggunakan jalan keluar yang lebih tinggi atau yang secara sosial lebih
dapat diterima bagi dorongan-dorongannya.
g. Displacement
Displacement
adalah mengarahkan energi kepada objek atau orang lain apabila objek asal atau
orang yang sebenarnya, tidak bisa dijangkau.
h. Represi
Represi
adalah melupakan isi kesadaran yang traumatis atau bisa membangkitkan
kecemasan, mendorong kenyataan yang tidak bisa diterima kepada ketidak sadaran,
atau menjadi tidak menyadari hal-hal yang menyakitkan. Represi merupakan salah
satu konsep Freud yang paling penting.
i. Formasi reaksi
Formasi
reaksi adalah melakukan tindakan yang berlawanan dengan keinginan tak sadar.
Jika perasaan-perasaan yang lebih dalam menimbulkan ancaman, maka seseorang
menampilkan tingkah laku yang berlawanan untuk menyangkal perasaan-perasaan
yang bisa menimbulkan ancaman.
UNSUR-UNSUR TERAPI
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter
individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri
klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali
pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan
ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian.
Fungsi dan Peran Terapis
Karakteristik psikoanalisi adalah terapi atau analis membiarkan dirinya anonim
sera hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien
memproyeksikan dirinya kepada analis. Analis berusaha membantu klien dalam
mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan
personal dalam menangani kecemasan serta secara realistis. Yang dilakukan klien
sebagian besar adalah berbicara, yang dilakukan oleh analis adalah mendengarkan
dan berusaha untuk mengetahui kapan dia harus membuat penafsiran yang layak
untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI
– Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan teknik utama terapi psikoanalitik. Analis meminta
kepada klien agar membersihkan pikirannya dari peikiran-pemikiran dan renungan
sehari-hari dan sebisa mungkin mengatakan apa saja yang melintas dalam
pikirannya. Dengan melaporkannya segera tanpa ada yang disembunyikan, klien
terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Cara yang khas adalah klien
berbaring diatas balai-balai sementara analisi duduk dibelakangnya sehingga
tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi nya mengalir bebas.
Asosiasi bebas merupakan suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman
masa lalu dan melepas emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi
traumatik dimasa lampau yang dikenal dengan katarsis.
– Analisis Transferensi
Transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Transferensi dalam
proses terapeutik ketika “urusan yang tidak selesai” dimasa lalu klien dengan
orang-orang yang berpengaruh menyebabkan dia mendistorsi masa sekarang.
Analisis trasferensi adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab
mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia
memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi dan
deprivasi dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap
kehidupannya sekarang. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa
dini yang tidak diinginkan dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional
yang sama yang terdapat dalam hubungan terapeutik dengan analis.
– Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien
mengemukakan bahan yang tidak disadari. Freud memandang resistensi sebagai
dinamika terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan mengingat jika
klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan yang direpresi itu.
Resistensi bekerja dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha
bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketidaksadaran klien.
– Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang
tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah
yang tidak terselesaikan. Selama tidur, pertahanan melemah dan perasaa yang
direpresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi sebagai “jalan istimewa
menju ketidaksadaran” karena melalui mimpi hasrat, kebutuhan, dan ketakutan
yang tidak disadari diungkapkan. Mimpi memiliki dua taraf isi yaitu isi laten
dan isi manifes.
https://rifkaputrika.wordpress.com/2015/04/16/konsep-dasar-teori-psikoanalisis/
- TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL
Terapi
Humanistik Eksistensial adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada
klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan,
keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab
atas dirinya.
Beberapa
tokoh dalam humanistik eksistensial, salah satunya adalah Abraham Maslow
menyebutnya sebagai teori holistic-dinamis karena teori ini menganggap bahwa
keseluruhan dari seseorang termotivasi oleh satu atau lebih kebutuhan dan orang
memiliki potensi untuk tumbuh menuju kesehatan psikologis yaitu aktualisasi
diri. Untuk memenuhi aktualisasi diri, ada beberapa kebutuhan mendasar yang
harus dipenuhi yaitu kebutuhan akan lapar, keamanan, cinta, dan harga diri.
Setelah itu semua terpenuhi, maka seseorang bisa mencapai aktualisasi diri.
KONSEP UTAMA TERAPI HUMANISTIK
EKSISTENSIAL
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki
kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan
nyata yang memungkinkan manusia dapat berpikir dan memutuskan. Kesadaran diri
membedakan manusia dengan mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pada hakikatnya semakin
tinggi kesadaran seseorang maka semakin dia hidup sebagai pribadi. Meningkatkan
kesadaran berarti meningkatkan kesanggupan seseorang untuk mengalami hidup
secara penuh sebagai manusia. Peningkatan kesadaran diri yang mencakup
kesadaran atas alternatif-alternatif, motivasi-motivasi, faktor-faktor yang
membentuk pribadi, dan atas tujuan-tujuan pribadi.
2. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan
dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi bagian dasar bagi
manusia. Kecemasan adalah suatu karakteristik dasar manusia yang dimana
merupakan sesuatu yang patologis, sebab dia bisa menjadi suatu tenaga
motivasional yang kuat untuk pertumbuhan kepribadian.
3. Penciptaan makna
Manusia itu unik, dalam
arti lain bahwa selalu berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan
nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Manusia pada dasarnya
selalu dalam pencarian makna dan identitas diri. Manusia memiliki kebutuhan
untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab
manusia adalah mahluk yang rasional dan makhluk sosial yang tidak dapat hidup
sendiri tanpa bantuan orang lain.
UNSUR-UNSUR
TERAPI
TUJUAN TERAPI HUMANISTIK
- Menyajikan kondisi-kondisi
untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan hidup manusia.
- Menghapus penghambat-penghambat
aktualisasi potensi pribadi pada diri seseorang.
- Membantu klien agar mampu
menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima
kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan
deterministik di luar dirinya sendiri.
- Membantu klien menemukan dan
menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran dirinya.
- Membantu klien agar bebas dan
bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.
TEKNIK-TEKNIK
TERAPI
Tidak seperti kebanyakan
pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki
teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Metode-metode yang berasal dari
terapi gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah
prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan
eksistensial humanisti
Fungsi dan Peran TerapisMenurut Buhler dan
Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup
hal-hal berikut :
1. Mengakui
pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
2. Menyadari peran
dari tanggung jawab terapis
3. Mengakui sifat
timbal balik dari hubungan terapeutik
4. Berorientasi
pada pertumbuhan
5. Menekankan
keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
6. Mengakui bahwa
putusan dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
7. Memandang
terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
Hidup dan pandangan humanistiknyatentang manusia
secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan
positif
8. Mengakui
kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
Mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya
sendiri.
9. Bekerja ke arah
mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan
Kebebasan klien.
Teknik Terapi
Teori humanistik
eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat.
Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya
separti teori Gestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah
menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna
apabila ia memaknainya.
Terapi eksistensial
humanistik merupakan terapi yang dilakukan dengan pendekatan berdasarkan pada
pemahaman filosofis tentang menjadi manusia yang utuh, apa makna menjadi manusia,
dan apa makna keberadaannya. Terapi ini berakar pada filsafat eksistensial
- PERSON
CENTERED THERAPY (ROGERS)
Carl Rogers paling dikenal sebagai pencetus
terapi yang berpusat pada pribadi (person-centered therapy) Tidak seperti Freud
yang pada dasarnya merupakan seorang pakar teori dan menjadikan terapis sebagai
kegiatan sekunder, Rogers merupakan terapis yang sempurna, namun tidak terlalu
menyukai teori. Rogers lebih tertarik untuk membantu orang lain daripada
mencari tahu mengapa mereka melakukan suatu perilaku. Ia akan lebih bertanya
mengenai "bagaimana saya dapat membantu orang ini untuk tumbuh dan
berekembang?" daripada memikirkan tentang pertanyaan "apa yang
menyebabkan orang ini berkembang seperti dengan cara seperti ini?".
Seperti kebanyakan pakar teori
kepribadian, Rogers membangun teorinya berdasarkan landasan yang diperolehnya
sebagai terapis. Tidak seperti sebagian besar pakar teori lainnya, Rogers
secara berkesinambungan melakukan penelitian empiris untuk mendukung teori
perkembangannya maupun pendekatan terapinya. Mungkin lebih dari para pakar
teori terapis lainnya, Rogers menunjukkan keseimbangan antara pemikiran yang
tidak kaku dan studi yang rasional yang dapat memperluas pengetahuan tentang
bagaimana manusia merasa dan berpikir.
Selama tahun 1950-an yang merupakan
titik tengah karirnya, Rogers diminta untuk menulis tentang apa yang kelak akan
disebut dengan teori kepribadian "yang berpusat pada pribadi".
Pada tahun-tahun awal sekitar tahun
1940-an, pendekatan yang dilakukan Rogers dikenal sebagai nondirective, istilah tidak menyenangkan yang diasosiasikan dengan
namanya dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, pendekatan tersebut memakai
beragam istilah, antara lain pendekatan yang berpusat pada klien (client-centered),
yang berpusat pada pribadi (person-centered), yang berpusat pada siswa (student-centered),
yang berpusat pada kelompok (group-centered), dan person-to-person. Namun, yang digunakan adalah penamaan yang berpusat pada
klien untuk merujuk terapi Rogers dan istilah yang lebih luas, yaitu person-centered untuk merujuk pada
teori kepribadian Rogers.
KONSEP-KONSEP
DASAR PANDANGAN ROGERS TENTANG KEPRIBADIAN
Pendekatan person-centered
therapy menekankan pada kecakapan klien untuk menentukan isu
yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah dirinya. Terapi ini berfokus
pada bagaimana membantu dan mengarahkan klien pada pengaktualisasian diri untuk
dapat mengatasi permasalahannya dan mencapai kebahagiaan. Konsep dasar dari
terapi ini adalah hal-hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self)
dan aktualisasi diri.
Menurut Rogers (1959), bayi mulai
mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah
dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai
"aku" (I) atau "diriku" (me). Kemudian, bayi
secara bertahap menjadi sadar akan identitasnya sendiri saat mereka belajar apa
yang terasa baik dan terasa buruk, apa yang terasa menyenangkan dan tidak
menyenangkan. Selanjutnya, mereka mulai untuk mengevaluasi pengalaman mereka
sebagai pengalaman positif dan negatif, menggunakan kecenderungan aktualisasi
sebagai kriteria.
Saat bayi telah membangun struktur
diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang.
Aktualisasi diri merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak
sama dengan kecenderungan itu sendiri. Secara singkat, aktualisasi diri adalah
kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan
dalam kesadaran. Rogers mengajukan dua subsistem, yaitu konsep diri (self-concept)
dan diri ideal (ideal-self).
Konsep Diri
Konsep diri meliputi seluruh aspek
dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari oleh individu tersebut.
Konsep diri tidak identik dengan diri organismik. Bagian-bagian diri organismik
berada di luar kesadaran seseorang atau tidak dimiliki oleh orang tersebut.
Saat manusia sudah membentuk konsep
dirinya, ia akan menemukan kesulitan dalam menerima perubahan dan pembelajaran
yang penting. Pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka biasanya
disangkal atau hanya diterima dengan bentuk yang telah didistorsi atau diubah.
Diri Ideal
Diri
ideal didefinisikan sebagai pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang
diharapkannya. Diri ideal meliputi semua atribut, biasanya yang positif, yang ingin
dimiliki oleh seseorang. Perbedaan yang besar antara diri ideal dengan konsep
diri mengindikasikan inkongruensi dan merupakan kepribadian yang tidak
sehat. Individu yang sehat secara psikologis akan mellihat sedikit perbedaan
antara konsep dirinya dengan apa yang mereka inginkan secara ideal.
UNSUR-UNSUR
PERSON CENTER THERAPY
1. Munculnya Gangguan
Hambatan
atas pertumbuhan psikologis terjadi saat seseorang mengalami penghargaan
bersyarat, inkongruensi, sikap defensif, dan disorganisasi.
Penghargaan bersyarat
dapat berakibat pada kerentanan, kecemasan, dan ancaman serta menghambat
manusia dari merasakan penerimaan positif yang tidak bersyarat. Inkongruensi
berkembang saat diri orgasmik dan diri yang dirasakan tidak selaras. Saat diri
organismik dan diri yang dirasakan tidak kongruen, manusia cenedrung menjadi
defensif serta menggunakan distorsi dan penyangkalan sebagai usaha untuk
mengurangi inkongruensi. Manusia yang mengalami disorganisasi saat distorsi dan
penyangkalan tidak cukup untuk menahan inkongruensi. Orang-orang yang cenderung
tidak menyadari inkongruensi mereka, memungkinkan untuk merasa lebih cemas,
terancam, dan defensif.
2. Tujuan Terapi
Rogers (1980) memberikan penjelasan sesuai dengan logika bahwa
ketika seseorang merasakan sendiri bahwa mereka dihargai dan diterima tanpa
syarat, mereka menyadari bahwa mungkin untuk pertama kalinya mereka dapat
dicintai. Sehingga, tujuan dari person-centered therapy adalah
untuk membuat klien/pribadi seseorang dapat menghargai dan menerima diri mereka
sendiri dan untuk mempunyai penerimaan positif yang tidak bersyarat terhadap
diri mereka.
3. Peran Terapis
Dalam
pandangan Rogers, konselor lebih banyak berperan sebagai partner klien dalam
memecahkan masalahnya. Dalam hubungan konseling, konselor ini lebih banyak
memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan segala permasalahan,
perasaan dan persepsinya, dan konselor merefleksikan segala yang diungkapkan
oleh klien.
Agar peran ini dapat
dipertahankan dan tujuan dapat dicapai, maka konselor perlu menciptakan iklim
atau kondisi yang mampu menumbuhkan hubungan konseling.
Selain peranan diatas,
peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan kemampuan
yang pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang secara optimal, dengan cara
menciptakan hubungan konseling yang hangat. Dalam suasana yang demikian,
konselor merupakan agen pembangunan yang mendorong terjadinya perubahan pada
diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam
proses perubahan tersebut.
TEKNIK-TEKNIK PERSON-CENTERED
THERAPY
Secara garis besar,
teknik-teknik dalam person-centered therapy adalah:
1. Konselor menciptakan
suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala kondisi
2. Konselor menjadi
seorang pendengar yang sabar dan peka serta dapat meyakinkan klien bahwa dia
diterima dan dipahami
3. Konselor memungkinkan
klien untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri
sendiri, dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan
perilakunya.
SUMBER:
http://helloaicita.blogspot.co.id/2015/04/person-centered-therapy-carl-rogers.html